TUGAS SIM
DOSEN PEMBIMBING :
ALDRI FRINALDI, S.H., M.Hum.
NIP : 197002121998021001
Camp Vietnam
Sejarah Pilu Manusia Perahu di Batam
Mengisi waktu liburan di Batam tidak hanya bisa
dilakukan dengan berbelanja di daerah Nagoya. Anda juga bisa berkunjung ke
kawasan wisata sejarah Camp Vietnam atau juga biasa disebut Kampung Vietnam.
Terletak di Pulau Galang, Camp Vietnam adalah suatu area tidak berpenghuni yang
dulunya merupakan tempat pengungsi Vietnam yang dikenal dengan sebutan Manusia
Perahu untuk mencari perlindungan atau suaka pasca terjadinya konflik internal
antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan sekitar tahun 1979. Dalam area
seluas sekitar 80 hektar ini tersebar benda-benda dan bangunan-bangunan yang
akan memberikan gambaran kehidupan para pengungsi dengan sejarah yang pilu ini.
Di masa perang saudara di Vietnam tahun 1979, ratusan
ribu penduduk Vietnam Selatan mengungsi dari negaranya demi alasan kemanan.
Mereka mengungsi dengan menggunakan perahu-perahu kayu sederhana yang
kondisinya memprihatinkan karena dalam satu perahu bisa ditempati 40-100 orang.
Berbulan-bulan para ‘Manusia Perahu’ ini terombang-ambing mengarungi perairan
Laut Cina Selatan sejauh ribuan kilometer tanpa tujuan yang jelas dengan harapan
mendapat perlindungan dari negara lain. Sebagian dari mereka ada yang meninggal
di tengah lautan dan sebagian lagi berhasil mencapai daratan, termasuk wilayah
Indonesia.
Pengungsi pertama yang yang mendarat di Indonesia
adalah di Kepulauan Natuna bagian utara pada tanggal 22 Mei 1975, sebanyak 75
orang. Pengungsi yang jumlahnya masih sedikit ini awalnya ditampung oleh
masyarakat setempat, hingga akhirnya perahu-perahu pengungsi lain juga
berdatangan, termasuk di Kepulauan Anambas dan Pulau Bintan. Gelombang
pengungsi ini menarik perhatian Komisi Tinggi Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) dan
Pemerintah Indonesia. Setelah mengevaluasi beberapa pulau di sekitar Pulau
Bintan, berdasarkan alasan kemudahan menyalurkan pengungsi ke negara ketiga,
area yang cukup luas untuk menampung 10.000 pengungsi, kemudahan isoler, serta
kemudahan akses, akhirnya diputuskanlah Pulau Galang, tepatnya di Desa
Sijantung, Kepulauan Riau sebagai tempat penampungan sementara bagi para
pengungsi.
Di Pulau Galang para pengungsi Vietnam meneruskan
hidupnya hingga tahun 1995, sampai akhirnya mereka mendapat suaka di negara-negara
maju yang mau menerima mereka ataupun dipulangkan ke Vietnam. Para pengungsi
tersebut hidup terisolasi di dalam area seluas 80 hektar dan tertutup
interaksinya dengan penduduk setempat. Hal ini dilakukan untuk mempermudah
pengawasan, pengaturan, penjagaan keamanan, sekaligus untuk menghindari
penyebaran penyakit kelamin Vietnam Rose yang dibawa para pengungsi.
Untuk mencapai Camp Vietnam, bisa ditempuh dalam waktu
sekitar 60 menit menggunakan kendaraan bermotor dari pusat kota Batam menuju
Pulau Galang dengan melalui Jembatan Barelang. Jembatan Barelang yang namanya
merupakan singkatan dari Batam, Rempang, dan Galang ini terdiri dari 6 jembatan
yang menghubungkan pulau-pulau kecil. Diperlukan waktu sekitar 1 jam yang
diiringi pemandangan lautan biru yang indah tiap kali berada di atas jembatan
hingga akhirnya tiba di Pulau Galang.
Dari jalanan utama Pulau Galang, di sebelah kiri akan
terlihat gapura berbentuk perahu bercat merah dan putih sebagai gerbang masuk
Camp Vietnam. Hati-hati terlewat karena letaknya kurang mencolok. Dengan
membayar di loket masuk sebesar Rp. 5000 per mobil dan Rp. 3000 per orang,
perjalanan napak tilas bersejarah ini pun dimulai.
Jalanan sepi berkelok-kelok membelah rimbunnya
pepohonan di kanan-kiri yang juga dihuni monyet-monyet jinak. Silih berganti
bangunan-bangunan bersejarah akan kita lewati. Salah satunya yang terdekat dari
gerbang masuk adalah Humanity Statue. Monumen kemanusiaan ini berbentuk patung
perempuan dalam keadaan terkulai. Monumen ini didirikan untuk mengenang tragedi
kemanusiaan Tinh Han Loai, seorang wanita yang bunuh diri karena malu setelah
diperkosa oleh sesama pengungsi. Pemerkosaan bukanlah satu-satunya tindakan
kriminal yang dilakukan oleh para pengungsi. Beberapa dari mereka juga mencuri,
bahkan membunuh. Oleh karena itu sebuah penjara juga dibangun di tempat ini
yang digunakan untuk menahan para pengungsi yang melakukan tindakan kriminal
dan yang mencoba melarikan diri.
Tidak jauh dari Humanity Statue, terdapat pemakaman
Nghia-Trang Galang. Sekitar 503 pengungsi dimakamkan di sini. Kebanyakan dari
mereka meninggal akibat penyakit yang diderita selama berlayar berbulan-bulan
di laut lepas. Pemakaman itulah yang membuat para kerabat yang telah kembali ke
Vietnam atau yang telah mendapat suaka di negara lain untuk bermukim masih
kerap datang ke Pulau Galang untuk berziarah.
Selepas pamakaman Nghia-Trang Galang, kita akan
menemui Monumen Perahu. Perahu-perahu ini adalah sebagian perahu asli yang
benar-benar digunakan para pengungsi untuk mengarungi Laut Cina Selatan. Dan
dalam perahu yang kecil ini, dipaksakan untuk memuat 40-100 orang selama
berbulan-bulan. Tak terbayangkan bagaimana para ‘Manusia Perahu’ ini bisa
bertahan untuk hidup. Perahu-perahu ini pernah dengan sengaja ditenggelamkan,
bahkan sebagian perahu dibakar oleh para pengungsi sebagai bentuk protes atas
kebijakan UNHCR dan Pemerintah Indonesia yang ingin memulangkan sekitar lima
ribu pengungsi. Lima ribu pengungsi ini dipulangkan karena mereka tidak lolos
tes untuk mendapatkan kewarganegaraan baru. Sepeninggal para pengungsi ini
tahun 1995, Pemerintah Otorita Batam mengangkat perahu-perahu yang ditenggelamkan
ke daratan, diperbaiki, dan dipamerkan ke publik sebagai benda bernilai
sejarah.
Museum juga tersedia di lokasi wisata sejarah ini. Di
dalam museum terdapat banyak pasfoto para pengungsi, foto keluarga, foto
kegiatan para pengungsi, serta benda-benda rumah tangga yang dapat
menggambarkan situasi kehidupan di Camp Vietnam. Selain museum juga terdapat
bekas bangunan rumah sakit yang masih menyimpan kotak-kotak dan botol-botol
obat yang dibiarkan terbengkalai begitu saja, bangkai-bangkai kendaraan roda
empat yang sudah berkarat dan ditumbuhi tanaman rambat, serta bangunan-bangunan
sekolah bahasa yang hanya terlihat sebagian karena mayoritas dindingnya sudah
tertutup tanaman rimbun hingga atap. Sekolah bahasa ini dulunya digunakan Badan
Penanganan Pengungsi PBB, UNHCR, untuk meningkatkan keterampilan bahasa para
pengungsi. Sebelum mendapat suaka di negara ketiga, para pengungsi diwajibkan
memiliki keterampilan khusus dan menguasai bahasa asing, di antaranya bahasa
Inggris dan Perancis.
Tempat-tempat ibadah juga tersedia di dalam area
pengungsian ini. Terdapat vihara, mushala, gereja Kristen, serta gereja
Katolik. Semua bangunan tersebut masih orisinil. Hanya vihara yang baru saja
diperbaiki dan dicat ulang sehingga terlihat mencolok di antara
bangunan-bangunan tua lainnya. Keadaan ini berbanding terbalik dengan gereja
Kristen yang hampir tidak terlihat dari jalanan karena yang tersisa hanya
tinggal puing yang tersembunyi di balik pepohonan. Sedangkan bangunan mushola
dan gereja Katolik masih berdiri tegak. Namun yang paling menarik adalah Gereja
Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem karena ukurannya yang lumayan tinggi
menjulang.
Untuk memasuki wilayah Gereja Katolik Nha Tho Duc Me
Vo Nhiem ini kita harus melalui jembatan kayu yang keadaannya sudah terlihat
lapuk namun ternyata masih bisa dilewati pejalan kaki dengan aman. Bagi yang
membawa kendaraan roda empat atau roda dua, bisa melewati jembatan jembatan
baru yang terbuat dari semen di samping gereja. Gereja ini setiap harinya
dijaga oleh seorang Bapak Petugas yang ramah. Menurut pengakuan beliau,
bangunan gereja ini termasuk interiornya masih asli. Hanya sebagian dinding
yang pernah dicat ulang serta atap yang pernah diganti. Di bagian samping
gereja ini juga terdapat patung-patung, di antaranya patung Bunda Maria yang
menginjak bola dunia di dalam sebuah perahu. Di kanan-kirinya terdapat dua
patung singa putih yang di punggungnya terdapat tulisan dalam bahasa Vietnam
dan Inggris. Tulisan berbahasa Inggrisnya berbunyi sebagai berikut: “O Mary,
we are all deeply grateful for your protecting presence on our way to freedom.
We always entrust our lives to you. Your care for us will be highly appreciated
in our heart forever.” Kalimat rasa syukur yang sangat dalam maknanya bagi
para pengungsi yang berhasil dengan pantang menyerah berusaha menemukan harapan
baru demi kehidupan yang lebih baik.
Semoga dengan dibukanya tempat ini
sebagai kawasan wisata sejarah akan selalu mengingatkan kita semua untuk selalu
menjaga kedamaian agar tidak akan terjadi lagi tragedi-tragedi kemanusiaan
lainnya.
SUMBER :




0 komentar:
Posting Komentar